Monday, 18 June 2018

BAB 1 PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Persaingan global merupakan fenomena yang tidak terhindarkan dalam dunia industri, terutama yang ditandai dengan perubahan-perubahan yang serba cepat di bidang komunikasi, informasi, dan teknologi. Dalam era persaingan global, kegiatan manufaktur maupun jasa sangat membutuhkan kemampuan baru agar perusahaan dapat berhasil secara kompetitif. Persaingan bisnis yang dihadapi perusahaan-perusahaan pada saat ini semakin ketat sehingga menuntut manajemen perusahaan untuk lebih cermat dalam menentukan strategi bersaingnya agar dapat memenangkan persaingan. Manajemen perusahaan dituntut untuk dapat mendesain dan mengimplementasikan strategi pemasaran yang mampu dalam menciptakan, mempertahankan, dan meningkatkan kepuasan pelanggannya sehingga tercipta loyalitas yang tinggi dari pelanggan terhadap produk yang ditawarkan perusahaan.
Tjiptono (2008:24) menyatakan bahwa terciptanya kepuasan pelanggan dapat memberikan empat manfaat yaitu hubungan antara perusahaan dan pelanggannya menjadi harmonis, memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang, terciptanya loyalitas pelanggan, serta terbentuknya rekomendasi dari mulut ke mulut (word-of-mouth) yang dapat menguntungkan bagi perusahaan. Selain itu, Tjiptono (2008:36) menjelaskan bahwa terdapat dua variabel utama yang menentukan kepuasan pelanggan yaitu expectations dan perceived performance. Apabila perceived performance melebihi expectations maka pelanggan puas, tetapi apabila sebaliknya maka pelanggan tidak puas. Orientasi perusahaan jasa modern adalah menciptakan kepuasan bagi para pelanggan sehingga memberikan loyalitas yang tinggi kepada perusahaan.
Perusahaan jasa memiliki faktor penentu dalam menciptakan loyalitas para pelanggannya yaitu kepuasan terhadap kualitas jasa yang diberikan. Dengan demikian, kualitas pelayanan jasa yang baik dapat menciptakan dan mempertahankan kepuasan serta menjadikan pelanggan loyal. Karakteristik pelanggan yang loyal salah satunya adalah selalu melakukan pembelian ulang secara terus-menerus. Menciptakan pelanggan yang loyal terhadap suatu merek atau perusahaan tidak mudah. Ada lima hal perlu dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan loyalitas pelanggan adalah memperlakukan pelanggan dengan baik, mendekatkan diri dengan pelanggan, mengukur kepuasan pelanggan, menciptakan switching cost, dan memberikan sesuatu yang sifatnya ekstra untuk memunculkan kesan yang positif (Aaker, 1991). Dengan kepuasan pelanggan, perusahaan dapat bertahan karena terciptanya loyalitas pelanggan.
Kualitas jasa didefinisikan sebagai penyampaian jasa yang melebihi tingkat kepentingan pelanggan. Parasuraman, et al (1988) mengidentifikasi tiga faktor yang mempengaruhi tingkat harapan pelanggan yaitu komunikasi dari mulut ke mulut (word of mouth), kebutuhan individu (personal need), dan pengalaman terdahulu (past experience). Dengan adanya harapan tertentu dari pelanggan maka perusahaan sebagai penyedia jasa harus berupaya memahami harapan pelanggan kemudian memenuhinya dengan kinerja jasa (service performance) yang sesuai atau mungkin melebihi harapan pelanggan sehingga pelanggan menjadi puas dan menimbulkan sikap loyal. Karakteristik jasa yang intangible menyebabkan jasa relatif sulit untuk diukur kualitasnya. Oleh karena itu, untuk menilai kualitas jasa dibutuhkan beberapa dimensi untuk mengukurnya. Terdapat lima dimensi utama kualitas jasa yaitu dimensi daya tanggap (responsiveness), dimensi keandalan (reliability), dimensi jaminan (assurance), dimensi empati (empathy), dan dimensi bukti fisik (tangibles).
Kualitas jasa merupakan salah satu cara untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan karena perusahaan harus peduli terhadap pemenuhan kepuasan pelanggan (customer satisfaction) sebab hanya pelanggan yang menikmati kepuasan yang akan menjadi pelanggan setia (loyal). Menurut Kotler (2000:298) kepuasan pelanggan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang sebagai hasil dari perbandingan antara prestasi atau produk yang dirasakan dan yang diharapkannya. Berdasarkan pendapat Kotler tersebut, maka kepuasan pelanggan harus diusahakan secara maksimal, dipelihara, dan selalu ditingkatkan sejalan dengan perubahan tuntutan pelanggan. Pelanggan yang puas terhadap kualitas produk jasa dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan bisnis perusahaan jasa. Oleh karena itu, perusahaan jasa perlu menjaga dan meningkatkan kepuasan pelanggan dengan cara memberikan kualitas layanan yang terbaik dari produk-produk jasanya.
Perusahaan jasa yang baik memfokuskan perhatiannya kepada pelanggan maupun karyawan. Perusahaan jasa memahami rantai laba-jasa yang menghubungkan laba perusahaan jasa dengan kepuasan karyawan dan pelanggan (Kotler dan Armstrong, 2001:379). Strategi pemasaran jasa tidak hanya memerlukan pemasaran eksternal, tetapi juga pemasaran internal untuk memotivasi karyawan dan pemasaran interaktif untuk menciptakan keahlian pemberian jasa bagi para penyedianya. Agar berhasil, para pemasar jasa harus menciptakan pembedaan yang memampukan perusahaan bersaing, menawarkan kualitas jasa yang tinggi, dan mencari cara untuk meningkatkan produktivitas jasa. Strategi diferensiasi bagi perusahaan jasa merupakan nilai tambah yang kompetitif dan diandalkan dalam meraih pangsa pasar di industri jasa.
Perusahaan jasa perlu terus-menerus menyusun dan mengimplementasikan strategi yang didasarkan pada komitmen manajemen untuk meningkatkan kualitas pelayanan jasa yang memuaskan pelanggan sehingga tercipta kesetiaan (loyalitas) dari pelanggan karena loyalitas pelanggan merupakan faktor penting bagi keberhasilan suatu perusahaan dalam menghadapi persaingan yang semakin kompetitif. Hal tersebut dilakukan berdasarkan kenyataan bahwa pelanggan yang tidak loyal terhadap produk jasa akan mencari penyedia produk jasa dari perusahaan lain yang mampu memuaskan kebutuhannya. Upaya penciptaan kepuasan dan loyalitas pelanggan harus selalu diikuti dengan evaluasi terhadap tingkat kepuasan dan loyalitas yang dicapai oleh pelanggan. Hal tersebut sangat diperlukan karena dengan mengetahui tingkat kepuasan atau loyalitas pelanggannya, manajemen perusahaan jasa dapat menentukan strategi pemasaran yang digunakan pada masa depan dengan lebih baik.
Industri perbankan merupakan salah satu usaha jasa yang menawarkan berbagai kebutuhan masyarakat terhadap jasa pelayanan keuangan. Usaha jasa perbankan harus selalu mengedepankan kualitas pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sebagai nasabahnya. Masyarakat sebagai pelanggan atau nasabah oleh industri perbankan mempunyai berbagai pertimbangan dalam memilih usaha jasa perbankan yang akan digunakannya. Hal itu dapat dilihat dari faktor tingkat bunga yang ditawarkan oleh perbankan kepada masyarakat, tingkat kenyamanan yang dirasakan oleh masyarakat dalam hal penyimpanan uang pada bank tersebut, dan mengenai kemudahan dalam memperoleh pinjaman. Faktor-faktor tersebut menjadi dasar pertimbangan masyarakat untuk memilih jasa perbankan, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat membentuk loyalitas pada diri masyarakat terhadap bank sebagai pilihan yang dipercayainya.
Dalam industri perbankan yang semakin kompetitif, kualitas jasa berperan penting dalam mempertahankan dan meningkatkan jumlah nasabah karena mempunyai nasabah yang loyal merupakan hal penting bagi suatu perusahaan yang bergerak di bidang perbankan. Perlu diketahui bahwa industri perbankan memiliki karakteristik high-contact service serta tingkat kompetisi yang sangat tinggi dalam menarik minat pelanggan atau nasabah pada jasa perbankan. Dengan jumlah bank dan kantor cabang yang banyak dan produk yang ditawarkan bank beragam maka kualitas pelayanan masih menjadi senjata ampuh bagi bank untuk mempertahankan nasabah atau mendapatkan nasabah baru. Pada lingkungan bisnis yang sangat ketat, pengukuran kualitas pelayanan (service quality) memainkan peranan penting dalam praktek pengelolaan perusahaan jasa, termasuk jasa perbankan. Pengukuran terhadap kualitas pelayanan secara berkala akan membantu praktisi perbankan dalam mengelola service delivery secara efektif dan efisien kepada target pasar yaitu para nasabah.
Memberikan pelayanan terbaik (service excellence) merupakan sesuatu yang sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana agar pelayanan prima tersebut bisa di persepsi dengan baik oleh nasabah. Kualitas pelayanan yang baik adalah apa yang ada dalam persepsi nasabah, bukan apa yang ada dalam pikiran manajemen. Jika persepsi nasabah terhadap pelayanan prima (service excellence) yang diberikan bank juga baik, berarti bank telah melakukan service delivery secara efektif. Pihak bank perlu melakukan pengukuran kualitas pelayanan berdasarkan persepsi nasabah secara berkala karena untuk menilai kinerja industri perbankan dalam melayani nasabahnya. Sejalan dengan perkembangan industri perbankan, kualitas pelayanan juga harus ditingkatkan. Sebab kualitas pelayanan menjadi faktor utama dalam menciptakan kepuasan nasabah (customer satisfaction) dan loyalitas nasabah (customer loyalty). Oleh karena itu, banyak bank yang berlomba-lomba meningkatkan kualitas customer service, pelayanan phone banking, internet banking, dan program kualitas pelayanan lain.
Kualitas pelayanan bank mungkin saja dapat berubah seiring dengan bergantinya waktu. Kualitas pelayanan bank juga bisa menjadi lebih baik, tetap, atau sebaliknya menjadi lebih buruk. Kebanyakan bank tentu mengharapkan kualitas pelayanannya meningkat agar selalu dapat memuaskan nasabah. Apabila kualitas pelayanan bank baik, khususnya tingkat reliability dan kinerja karyawan bank dalam melayani nasabah semakin baik maka value dari kepuasan nasabah semakin tinggi sehingga semakin loyal nasabah tersebut kepada bank yang bersangkutan. Nasabah loyal akan menjadi spiritual advocate yang akan membela produk atau bank dalam keadaan apapun dan secara sukarela merekomendasikan produk atau bank tersebut kepada orang lain. Loyalitas nasabah ini pada akhirnya akan berdampak pada laba yang diperoleh perusahaan perbankan.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. merupakan salah satu bank nasional terkemuka di Indonesia. Positioning PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) dalam masyarakat dikenal sebagai bank yang memprioritaskan pelayanannya kepada para pelaku usaha mikro kecil dan menengah. BRI sebagai industri jasa perbankan selalu menawarkan produk-produk yang inovatif dan kompetitif guna memberikan keuntungan dan manfaat bagi para nasabahnya. BRI menawarkan produk jasa yang memberikan nilai tambah dalam bertransaksi keuangan, yaitu program Untung Beliung Britama 2008-2009. Program Untung Beliung Britama merupakan suatu program undian berhadiah yang diselenggarakan sebagai bentuk penghargaan BRI kepada para nasabah atas kepercayaannya kepada BRI, serta untuk menarik minat masyarakat menyimpan dananya di BRI. Dengan adanya nilai tambah tersebut, BRI mengharapkan para nasabah merasa puas sehingga tercipta loyalitas nasabah terhadap produk dan pelayanan BRI. Oleh karena itu, dukungan dan kepercayaan yang selama ini diberikan oleh nasabah merupakan amanah yang harus dijunjung tinggi dan dihargai oleh BRI baik melalui peningkatan kualitas pelayanan, penyediaan produk-produk jasa perbankan yang inovatif, modern, dan lengkap sesuai kebutuhan para nasabahnya.
Memberikan pelayanan terbaik (service excellence) memang penting diimplementasikan bagi setiap industri jasa perbankan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana agar pelayanan prima tersebut dapat memuaskan nasabah. Apabila kepuasan nasabah terhadap kualitas pelayanan prima yang diberikan bank baik maka akan terciptanya loyalitas nasabah terhadap bank tersebut. Pengukuran pengaruh kualitas pelayanan (dimensi kualitas jasa) terhadap kepuasan nasabah dalam menciptakan loyalitas nasabah sangat penting dilakukan oleh bank. Atas dasar pemikiran tersebut, penulis melakukan penelitian tentang pengaruh dimensi kualitas jasa yang terdiri atas daya tanggap (responsiveness), keandalan (reliability), jaminan (assurance), empati (empathy), dan bukti fisik (tangibles) terhadap kepuasan dan loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember. Penelitian kualitas pelayanan jasa perbankan ini mengambil judul “Implikasi Dimensi Kualitas Jasa Terhadap Kepuasan dalam Menciptakan Loyalitas Nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember”.

1.2 Perumusan Masalah
Kompetisi global yang semakin intensif menuntut PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember untuk mampu menciptakan kepuasan dan loyalitas nasabah. Keberhasilan dalam menciptakan kepuasan dan loyalitas nasabah sangat ditentukan oleh pendekatan kualitas jasa yang digunakan. Konsekuensi atas pendekatan kualitas jasa suatu produk memiliki esensi penting bagi strategi bisnis PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember untuk mempertahankan diri dan mencapai kesuksesan dalam menghadapi persaingan. Salah satu pendekatan kualitas jasa yang dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah model kualitas jasa (servqual) yang dikembangkan oleh Parasuraman, Zeithmal, dan Berry. Model kualitas jasa (servqual) terdiri atas lima dimensi yaitu dimensi daya tanggap (responsiveness), dimensi keandalan (reliability), dimensi jaminan (assurance), dimensi empati (empathy), dan dimensi bukti fisik (tangibles) (Parasuraman et al., dalam Tjiptono, 2005:273). Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan pokok permasalahan sebagai berikut.
  1. Apakah dimensi daya tanggap berpengaruh terhadap kepuasan nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember?
  2. Apakah dimensi keandalan berpengaruh terhadap kepuasan nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember?
  3. Apakah dimensi jaminan berpengaruh terhadap kepuasan nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember?
  4. Apakah dimensi empati berpengaruh terhadap kepuasan nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember?
  5. Apakah dimensi bukti fisik berpengaruh terhadap kepuasan nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember?
  6. Apakah dimensi daya tanggap berpengaruh terhadap loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember?
  7. Apakah dimensi keandalan berpengaruh terhadap loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember?
  8. Apakah dimensi jaminan berpengaruh terhadap loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember?
  9. Apakah dimensi empati berpengaruh terhadap loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember?
  10. Apakah dimensi bukti fisik berpengaruh terhadap loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember?
  11. Apakah kepuasan nasabah berpengaruh terhadap loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember?

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
  1. Menganalisis pengaruh dimensi daya tanggap terhadap kepuasan nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember.
  2. Menganalisis pengaruh dimensi keandalan terhadap kepuasan nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember.
  3. Menganalisis pengaruh dimensi jaminan terhadap kepuasan nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember.
  4. Menganalisis pengaruh dimensi empati terhadap kepuasan nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember.
  5. Menganalisis pengaruh dimensi bukti fisik terhadap kepuasan nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember.
  6. Menganalisis pengaruh dimensi daya tanggap terhadap loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember.
  7. Menganalisis pengaruh dimensi keandalan terhadap loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember.
  8. Menganalisis pengaruh dimensi jaminan terhadap loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember.
  9. Menganalisis pengaruh dimensi empati terhadap loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember.
  10. Menganalisis pengaruh dimensi bukti fisik terhadap loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember.
  11. Menganalisis pengaruh kepuasan nasabah terhadap loyalitas nasabah pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember.

1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada para pihak industri perbankan, BRI, nasabah, akademisi, dan peneliti sebagai berikut.

  1. Bagi Industri Perbankan
Manfaat hasil penelitian ini adalah sebagai bahan informasi bagi para pelaku bisnis pada industri perbankan tentang pengaruh kualitas pelayanan jasa bank sehingga dapat disusun suatu standar operasional yang bermutu dan berkualitas dalam sistem manajemen perbankan.

  1. Bagi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember
Manfaat hasil penelitian ini adalah sebagai sumbangan pemikiran, informasi, dan bahan pertimbangan bagi pihak manajemen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Jember dalam menyusun strategi pemasarannya secara efektif dan berkaitan dengan kebijakan kualitas jasa perbankan dalam melayani para nasabah.

  1. Bagi Nasabah
Manfaat hasil penelitian ini adalah sebagai sumbangan informasi bagi para nasabah perbankan tentang kualitas jasa pelayanan yang merupakan bagian dari strategi pemasaran jasa dalam industri perbankan.

  1. Bagi Akademisi
Manfaat hasil penelitian ini adalah sebagai bahan informasi yang memberikan wawasan ilmiah dan sebagai referensi kepustakaan yang memberikan kontribusi positif bagi kemajuan dan pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu manajemen pemasaran jasa.

  1. Bagi Peneliti
Manfaat hasil penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan berpikir penalaran terhadap ilmu pengetahuan sosial, ekonomi, dan manajemen serta menambah wawasan ilmiah tentang implementasi strategi pemasaran jasa pada industri perbankan.

No comments:

Post a Comment