2.1.6 Dimensi Kualitas Jasa
Pengukuran
kualitas jasa dalam model servqual didasarkan pada skala multi item yang
dirancang untuk mengukur harapan dan persepsi pelanggan dalam dimensi-dimensi
kualitas jasa. Menurut Tjiptono (2005:273) terdapat lima dimensi utama kualitas
jasa sebagai berikut.
a.
Keandalan (reliability), yaitu kemampuan perusahaan jasa untuk memberikan
pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara akurat dan tepercaya. Kinerja
harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan
yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan
dengan akurasi yang tinggi.
b.
Daya tanggap (responsiveness), yaitu suatu kebijakan untuk membantu
dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan,
dengan penyampaian informasi yang jelas.
c.
Jaminan (assurance), yaitu pengetahuan, kesopan santunan, dan
kemampuan para karyawan perusahaan jasa untuk menumbuhkan rasa percaya para
pelanggan kepada perusahaan. Hal ini meliputi beberapa komponen antara lain
komunikasi (communication), kredibilitas (credibility), keamanan
(security), kompetensi (competence), dan sopan santun (courtesy).
d.
Empati (empathy), yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat
individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya
memahami keinginan pelanggan. Di mana suatu perusahaan jasa diharapkan memiliki
pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan
secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.
e.
Bukti fisik (tangible), yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam
menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan
sarana dan prasarana fisik perusahaan jasa yang dapat diandalkan keadaan
lingkungan sekitarnya merupakan bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh
pemberi jasa. Hal ini meliputi fasilitas fisik, perlengkapan dan peralatan yang
digunakan, serta penampilan pegawainya.
2.1.7 Kepuasan Pelanggan
Kepuasan
pelanggan didefinisikan sebagai respons pelanggan terhadap ketidaksesuaian
antara tingkat kepentingan sebelumnya dan kinerja aktual yang dirasakannya
setelah pemakaian. Kepuasan pelanggan berkontribusi pada sejumlah aspek
krusial, seperti terciptanya loyalitas pelanggan, meningkatnya reputasi
perusahaan, berkurangnya elastisitas harga, berkurangnya biaya transaksi masa
depan, dan meningkatnya efisiensi serta produktivitas karyawan (Tjiptono,
2006:349). Menurut Engel et al. (dalam Tjiptono, 2005:349) kepuasan pelanggan
merupakan evaluasi purna beli di mana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya
sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila
hasil tidak memenuhi harapan. Mowen (dalam Tjiptono, 2005:368) mendefinisikan
kepuasan pelanggan sebagai sikap keseluruhan terhadap suatu barang atau jasa
setelah perolehan dan pemakaiannya.
Menurut
Kotler (dalam Tjiptono, 2005:350) kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan di
mana seseorang menyatakan hasil perbandingan atas kinerja produk (jasa) yang
diterima dan yang diharapkan. Definisi kepuasan pelanggan yang dominan dan
banyak diacu dalam literatur pemasaran adalah definisi berdasarkan disconfirmation
paradigm (Oliver, dalam Tjiptono, 2005:350). Berdasarkan paradigma
tersebut, kepuasan pelanggan dirumuskan sebagai evaluasi purna beli, di mana
persepsi terhadap kinerja alternatif produk atau jasa yang dipilih memenuhi
atau melebihi harapan sebelum pembelian. Salah satu faktor yang menentukan
kepuasan pelanggan adalah persepsi pelanggan mengenai kualitas jasa yang
berfokus pada lima dimensi kualitas jasa. Kepuasan pelanggan, selain
dipengaruhi oleh persepsi kualitas jasa juga ditentukan oleh kualitas produk,
harga, dan faktor-faktor yang bersifat pribadi serta bersifat situasi sesaat
(Rangkuti, 2006:30).
Penyusunan
strategi untuk meningkatkan kepuasan pelanggan harus mempertimbangkan dua
strategi pemasaran, yaitu defensive marketing dan offensive marketing
(Rangkuti, 2006:54). Strategi defensive marketing misalnya dengan
melakukan efisiensi biaya, meningkatkan volume pembelian kembali, menerapkan
strategi harga premium serta melakukan strategi promosi yang tepat. Strategi offensive
marketing yaitu dengan cara meningkatkan pangsa pasar, meningkatkan
reputasi atau citra produk melalui strategi merek serta penerapan harga premium.
Strategi defensive marketing akan menghasilkan margin keuntungan yang
tinggi, sedangkan strategi offensive marketing akan menghasilkan margin
keuntungan relatif kecil tetapi perusahaan jasa akan menikmati peningkatan
penjualan yang cukup besar.
2.1.8 Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Menurut
Fornell et al. (dalam Tjiptono, 2005:365) terdapat tiga aspek penting
dalam kerangka pengukuran kepuasan pelanggan, yaitu (1) kepuasan general atau
keseluruhan; (2) konfirmasi harapan, yaitu tingkat kesesuaian antara kinerja
dengan ekspektasi; dan (3) perbandingan dengan situasi ideal, yaitu kinerja
produk dibandingkan dengan produk ideal menurut persepsi pelanggan. Kotler (dalam
Tjiptono, 2005:366) mengidentifikasi empat metode untuk mengukur kepuasan
pelanggan, yaitu:
a.
Sistem keluhan dan saran
Setiap
organisasi jasa yang berorientasi pada pelanggan wajib memberikan kesempatan
seluas-luasnya bagi para pelanggannya untuk menyampaikan saran, kritik,
pendapat, dan keluhan mereka. Media yang digunakan dapat berupa kotak saran
yang diletakkan di tempat-tempat strategis, kartu komentar, saluran telepon
khusus bebas pulsa, website, dan lain-lain.
b.
Ghost shopping
Salah
satu metode untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan
mempekerjakan beberapa orang ghost shoppers untuk berperan sebagai
pelanggan potensial jasa perusahaan dan pesaing. Mereka diminta melaporkan
berbagai temuan penting berdasarkan pengalamannya mengenai kekuatan dan
kelemahan jasa perusahaan dibandingkan para pesaing. Selain itu, para ghost
shoppers juga dapat mengobservasi cara perusahaan dan pesaingnya melayani
permintaan spesifik pelanggan, menjawab pertanyaan pelanggan, dan menangani
setiap masalah/keluhan pelanggan.
c.
Lost customer analysis
Perusahaan
menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli atau yang telah beralih
pemasok agar dapat memahami mengapa hal itu terjadi dan supaya dapat mengambil
kebijakan/penyempurnaan selanjutnya. Akan tetapi, kesulitan menerapkan metode
ini adalah pada mengidentifikasi dan mengontak mantan pelanggan yang bersedia
memberikan masukan dan evaluasi terhadap kinerja perusahaan.
d.
Survei kepuasan pelanggan
Umumnya
sebagian besar penelitian mengenai kepuasan pelanggan menggunakan metode survei,
baik via pos, telepon, e-mail, maupun wawancara langsung. Melalui survei,
perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik langsung dari pelanggan
dan juga memberikan sinyal positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap
mereka.
2.1.9 Loyalitas Pelanggan
Loyalitas
pelanggan berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh pelanggan sedangkan kepuasan
pelanggan berkaitan dengan apa yang diungkapkan oleh pelanggan (Tjiptono,
2005:411). Menurut Sheth dan Mittal (dalam Tjiptono, 2005:387) loyalitas
pelanggan adalah komitmen pelanggan terhadap suatu merek, toko, atau pemasok,
berdasarkan sikap yang sangat positif dan tercermin dalam pembelian ulang yang
konsisten. Menurut Bendaputi dan Berry (dalam Tjiptono, 2005:387) loyalitas
pelanggan dalam konteks pemasaran jasa adalah respons yang terkait erat dengan
ikrar atau janji untuk memegang teguh komitmen yang mendasari kontinuitas
relasi, dan biasanya tercermin dalam pembelian berkelanjutan dari penyedia jasa
yang sama atas dasar dedikasi maupun kendala pragmatis. Menurut Schnaars (dalam
Tjiptono, 2005:386) terdapat empat macam kemungkinan hubungan antara kepuasan
dan loyalitas pelanggan yaitu failures
(tidak puas dan tidak loyal), forced
loyalty (tidak puas dan terikat promosi loyalitas), defectors (puas tapi tidak loyal), dan successes (puas dan loyal).
Loyalitas
pelanggan memiliki konsekuensi motivasional, perceptual, dan behavioral
(Dick dan Basu, dalam Tjiptono, 2005:398). Pertama, motivasi untuk mencari
informasi mengenai produk, merek atau pemasok alternatif cenderung berkurang
seiring dengan meningkatnya pengalaman, pembelajaran, kepuasan, dan pembelian
ulang pelanggan bersangkutan. Hubungan sikap relatif dan pola pembelian ulang
yang kuat akan menyebabkan berkurangnya motivasi pelanggan untuk mencari
informasi alternatif. Kedua, pelanggan yang memiliki komitmen kuat terhadap
objek spesifik cenderung memiliki resistance to counter persuasion yang kokoh.
Sejumlah mekanisme diyakini berkontribusi terhadap resistensi tersebut,
diantaranya selektivitas pesan berdasarkan sikap, respons kognitif yang bias,
konsistensi kognitif, self persuasion (Dick dan Basu,
dalam Tjiptono, 2005:398). Ketiga, loyalitas pelanggan juga berdampak pada
perilaku komunikasi mulut ke mulut (word of mouth behavior), terutama apabila
pelanggan merasakan pengalaman emosional yang signifikan. Pelanggan yang loyal
cenderung bersedia menceritakan pengalaman positifnya kepada orang lain. Dick
dan Basu (dalam Tjiptono, 2005:392) berusaha mengintegrasikan perspektif sikap
dan behavioral ke dalam satu model
komprehensif. Dengan mengombinasikan komponen sikap dan perilaku pembelian
ulang, maka didapatkan empat situasi kemungkinan loyalitas yaitu no loyalty, spurious loyalty, latent
loyalty, dan loyalty.

No comments:
Post a Comment